Jakarta, 24 Maret 2025 – Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) bersama Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro) sukses menyelenggarakan Workshop “Mengatasi Susut dan Sisa Pangan di Sektor Pertanian dan Manufaktur” pada Senin (24/3) di Jakarta. Acara ini mempertemukan para pelaku usaha anggota PISAgro, perwakilan pemerintah, dan mitra teknis WRAP untuk mendorong kolaborasi nyata dalam mengurangi susut dan sisa pangan (SSP) di sepanjang rantai pasok pangan nasional.
Workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan GRASP 2030, sebuah platform kolaboratif yang diinisiasi oleh IBCSD, serta mengajak sektor swasta untuk terlibat aktif dalam peta jalan pengurangan SSP nasional melalui pendekatan Target-Ukur-Aksi. Pendekatan ini dinilai efektif dalam membantu perusahaan menetapkan target, melakukan pengukuran, dan merancang aksi konkret berdasarkan data.
Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif PISAgro, Insan Syafaat, menekankan pentingnya peran sektor agrikultur dan manufaktur dalam mengatasi susut dan sisa pangan. “Di sektor agrikultur dan manufaktur, isu susut dan sisa pangan menjadi salah satu persoalan yang perlu diatasi,” ujarnya.
Kolaborasi antara IBCSD dan PISAgro menjadi wadah strategis untuk mendorong langkah nyata dalam mempercepat inisiatif keberlanjutan di sektor agrikultur dan manufaktur. Sinergi ini tidak hanya memperkuat implementasi praktik berkelanjutan, tetapi juga memperkuat posisi dan suara sektor bisnis dalam advokasi kebijakan yang mendukung transformasi menuju sistem pangan yang lebih berketahanan dan berkelanjutan. Direktur Eksekutif IBCSD, Indah Budiani, menyampaikan sejumlah hal yang dapat ditindaklanjuti dari kolaborasi ini. “Hal ini untuk menjadikan upaya kita bersama lebih berdampak,” sebut Indah.
Pada sesi pertama, Dr. Jarot Indarto dari Bappenas menyampaikan arah kebijakan pemerintah terkait penanganan SSP dan pentingnya sinergi antara sektor publik dan swasta dalam menciptakan sistem pangan yang efisien. Sesi berikutnya menghadirkan diskusi panel yang diisi oleh Aloysius Wiratmo dari IBCSD, serta Sachi Shah dan Michael Jones dari WRAP. Para narasumber memperkenalkan konsep SSP secara menyeluruh dan memperkenalkan GRASP 2030 sebagai platform kolaboratif berbasis voluntary agreement atau perjanjian sukarela, yang mengedepankan pendekatan Target-Ukur-Aksi. Diskusi juga membahas pemanfaatan Data Capture Sheet untuk pengumpulan data yang terstandar, serta pentingnya integrasi data dalam proses pengambilan keputusan strategis di sektor bisnis.
Dalam workshop ini, Chairperson GRASP 2030, Angelique Dewi, diwakili oleh Kenny Liana dari Nutrifood membagikan praktik terbaik dan testimoni sebagai penandatangan GRASP 2030. Kenny juga berbagi mengenai tantangan yang dihadapi oleh para pelaku usaha.
Workshop ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun upaya kolektif lintas sektor untuk mengurangi susut dan sisa pangan di Indonesia. Melalui kolaborasi, pertukaran pengetahuan, serta pemanfaatan data yang lebih baik, diharapkan semakin banyak pelaku usaha yang terdorong untuk mengambil aksi konkret guna mewujudkan sistem pangan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
Tentang GRASP 2030
GRASP 2030 (Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan 2030) adalah inisiatif kolaboratif yang diinisiasi IBCSD sejak 2021 untuk menurunkan susut dan sisa pangan di Indonesia melalui aksi bersama pelaku usaha, organisasi sosial, dan pemangku kepentingan lainnya.
Tentang IBCSD:
Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) adalah sebuah asosiasi yang dipimpin oleh para CEO perusahaan yang beroperasi di Indonesia, yang memiliki komitmen yang sama untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan melalui pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, keseimbangan ekologi, dan kemajuan sosial. IBCSD memfasilitasi kepemimpinan bisnis yang berkelanjutan dengan mempromosikan praktik-praktik terbaik, bermitra dengan pemerintah dan masyarakat sipil, serta memberikan solusi bagi kebijakan Indonesia dalam isu-isu keberlanjutan.